Semoga Selalu Dalam Kondisi Semangat dan sehat selalu.
Sudah lama rasanya, saya tidak menyuntikkan Artikel baru dalam Blog ini,
dan akhirnya malam ini, saya berkesempatan untuk memasukan satu artikel terbaru.
Sebenarnya Moment yang tepat untuk artikel ini adalah Bulan Mei, mengingat, di bulan ini, kita disegarkan kembali oleh Kenangan akan sebuah Peristiwa yang menjadi tonggak sejarah bagi Proses Tranformasi Negeri ini. Namun Walaupun demikian, saya tetap Berkeinginan Untuk Memasukannya ke dalam blog ini. Dikarenakan Artikelnya yang lumayan panjang, Maka saya bagi menjadi 2 Part..Tidak berpanjang Lebar, Semoga Tulisan yang terlambat dan sederhana ini, dapat menjadi bacaan yang menyegarkan..Selamat Membaca
“ TURUNKAN Orde Baru, Turunkan Pemerintahan Otoriter , Saatnya Reformasi “..
Jika sedikit melihat ke belakang, tentu ingatan kita masih segar, mengenang 13 tahun yang lalu. Telinga kita tidak asing mendengar teriakan-teriakan dari para Penggagas Reformasi, yang waktu itu di Prakarsai oleh Tokoh tokoh reformasi dan Para Mahasiswa. Berhari-hari bahkan berminggu-minggu, mereka tidak mengenal lelah untuk merobohkan Tembok Orde Baru. Sebuah Orde Pemerintahan yang telah berjalan selama 32 tahun. Mereka menuntut perubahan dalam semua bidang pemerintahan . Tidak terkecuali juga kepada Pemimpin Kabinet. Saat Itu, kondisi negeri ini seperti di ambang sebuah gerbang yang bernama Revolusi. Terlebih ketika Perjuangan Para Pioner Reformasi harus dibayar mahal dengan kehilangan 3 nyawa mahasiswa. Sungguh menjadi sebuah ketakutan dan kecemasan, Apakah Negeri ini akan bertahan, Sejarahlah Yang membuktikannya.Akar muasal dari salah satu terbentuknya peristiwa yang menjadi sejarah perubahan bagi republik ini adalah terjadinya krisis ekonomi yang memicu krisis multidimensi dalam berbagai bidang yang mengakibatkan efek domino bagi semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, serta akumulasi kejenuhan sebagian besar orang akan kondisi yang terus terkekang dari kebebasan – kebebasan yang selayaknya di dapatkan oleh manusia. Ibaratkan air dalam sebuah bendungan dengan tekanan yang amat besar, ketika kran atau pintu airnya terbuka, maka seketika air tersebut akan menyembur dengan kekuatan dahsyat. Begitulah secuil perumpamaan yang menggambarkan situasi saat itu. Kran kebebasan yang telah lama terkunci, Akhirnya terbuka dan euphoria kebebasan yang teramat bebas menjalar kemana-mana. Namun disayangkan, kebebasan yang terlahir tanpa dilandasi oleh etika yang baik dan matang akhirnya malah mendatangkan masalah baru yang menyedihkan dan sangat ironis. Sesama anak bangsa saling menyakiti, menyerang satu sama lain sehingga korban jiwa pun menjadi pelengkap dalam kejadian ini. Budaya bangsa yang sangat menjunjung Tata Krama serta Norma-norma kehidupan, bagaikan hilang Tersapu oleh air dari kran kebebasan tersebut. Iklim kehidupan yang tidak kondusif ini secara otomatis mengundang Mata dunia untuk melihat Republik ini.
Di lain pihak, pemerintah yang sudah kehilangan kepercayaan dari rakyat juga mengalami turbelensi. Kekompakan kabinet pecah, seperti balok es yang semula kuat, tiba tiba berantakan ketika dibanting.Hal ini semakin menambah kerumitan. Tuntutan total terhadap perubahan jajaran kabinet akhirnya terjadi. Kepala Negara merangkap Kepala Pemerintahan yang telah berkuasa selama 32 tahun, menyadari waktunya telah habis. mau tidak mau, kehendak rakyat harus dipenuhi agar tidak terjadi pergejolakan yang lebih besar. Sesuai dengan undang-undang yang berlaku, ketika Presiden berhalangan atau mengundurkan diri dalam tugasnya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan,maka Wakil Presiden diangkat menjadi presiden untuk menjalankan tugas dan kewajibannya.
Dan terjadilah Pergantian Posisi orang nomor satu di negeri ini. Jajaran kabinet segera diperbarui dalam waktu yang singkat. Tuntutan demokrasi menjadi prioritas untuk dikerjakan. Para tahanan politik yang bersuara semasa Orde baru, satu persatu dibebaskan semua. Kebebasan Pers dalam berbicara juga dibuka. Setiap orang seperti mendapat angin segar untuk menyalurkan pendapat secara bebas dan gamblang, Berbagai partai politik muncul bagaikan Jamur dimusim hujan. Dan dimulailah transisi peralihan Sistem kedaulatan rakyat. Tidak hanya ini, pekerjaan rumah lainnya yang sangat kompleks dan besar, seperti tiada pernah berhenti datang bertubi-tubi. Negeri yang sedang bergejolak dan memulai masa transisi demokrasi membuat banyak pihak yang pesimis dengan hebatnya. Kondisi demikian banyak membuat para pengamat Dunia internasional mengeluarkan prediksi-prediksi tentang kelangsungan hidup Bangsa ini. Pernyataan dan Statement mereka sama sekali tidak memberikan Secercah Harapan, bahkan hampir tidak ada yang Percaya INDONESIA sanggup melewati salah satu titik tantangan terbesar dalam Sejarah Republik. Namun berkat doa dan kerja keras seluruh rakyat Indonesia yang tetap menginginkan bangsa ini berdiri tegar, Fakta-fakta tersebut kita kembalikan kepada mereka. Sampai hari ini Negara Republik Indonesia masih berdiri dan bahkan semakin dipandang dalam percaturan internasional, Sang Saka Merah Putihpun masih berkibar dengan gagah perkasa.
Kembali ke pembahasan .
Setelah melakukan banyak pekerjaan yang begitu menguras energi,pikiran,jiwa dan raga, Presiden Transisi yang menjabat tidak lebih dari 2 tahun, akhirnya harus menghadapi Majelis Permusyawaratan Rakyat yang waktu itu sebagai pemegang kekuasan kedaulatan rakyat tertinggi. Sidang Istimewa digelar oleh MPR untuk meminta pertanggungjawaban dari Presiden . Apa daya, pertanggungjawabannya di tolak, dan ini berarti Indonesia harus segera melakukan pemilihan Presiden kembali. Sungguh ini bukan sesuatu yang dimudah untuk dilalui. Namun berkat Jiwa besar dan Lapang dada, Presiden ke 3 RI dengan Legowo tidak melakukan perlawanan, Ikhlas menerima dan siap mundur. akhirnya melalui berbagai persiapan, terpilihlah Presiden RI yang ke 4 berserta wakilnya melalui pemungutan suara oleh anggota MPR yang jumlahnya lebih dari 400 itu. Terbentuklah Kabinet Reformasi.
Ternyata jalan untuk bertahan selama satu periode bagi Presiden RI yang ke 4 ini, tidak semudah membalikan telapak tangan. Berbagai permasalahan akhirnya muncul satu persatu . dan klimaksnya adalah keluar dekrit Presiden yang berisi pembubaran Parlemen. Tentu ini sudah melampau Tugas dan wewenang dari yang seharusnya. Alhasil terjadi kembali pengangkatan Wakil Presiden menjadi Presiden RI yang 5. Kabinet Gotong Royong pun terbentuk dengan pembaharuan berbagai posisi.
Kejadian pahit yang diterima oleh Presiden RI ke 3, Syukur tidak terjadi di periode pemerintahan kali ini, MPR memberikan kesempatan untuk menuntaskan misi pemerintahan selama satu periode.
Sampailah kita pada sebuah fase dimana bangsa ini menyelenggarakan Pemilu yang bernafas Luber, Jurdil dan Demokrasi Pertama. Dan berujung pada terpilihnya Presiden RI yang ke 6 beserta Wakil Presiden yang dipilih langsung oleh seluruh rakyat Indonesia. Suara mereka tidak diwakilkan lagi, namun mereka berhak memutuskan siapa yang akan mereka pilih untuk memimpin bangsa yang besar ini. Kabinet Indonesia Bersatu terwujud. Harapan rakyat untuk merasakan dampak positif dari reformasi sangat besar.
Mulai dari titik inilah, Program Reformasi dijalankan. Berbagai hal yang belum terjadi di Era Orde Baru, diera Reformasi semua hampir terjadi. Sebagian besar orang, berlomba-lomba untuk menikmati kuncuran kebebasan dari kran demokrasi. Bagaikan bertemu dengan mata air, Setelah lama berkelana di gurun pasir. Insan media cetak maupun elektronik, tidak ketinggalan menikmati cipratan kebebasan ini. Setiap pribadi, tidak lagi terhalang untuk mengeluarkan pendapat dan suara. Aksi-aksi penyampaian pendapat seperti unjuk rasa tumbuh dimana-mana. Tentu kita semua tahu, masih banyak lagi hal-hal yang tumbuh dari rintikan Kebebasan tersebut.
Proses demi proses perjalanan bangsa telah kita lewati bersama. 13 Tahun sudah reformasi berjalan.
Tentu ada hal yang sudah dicapai, lagi dicapai, belum tercapai dan dalam perancanaan pencapaian tujuan tersebut. Kita tidak bisa memungkiri, persoalan dan permasalahan bangsa sangat kompleks dan sudah sangat kuat mengakar sejak puluhan tahun lalu, katakanlah seperti kemiskinan, dan kesehjateraan rakyat. Butuh perjuangan tanpa lelah dan putus asa untuk Bisa mengikis permasalahan tersebut sampai ke akar-akarnya. Kita patut memberi penghormatan, penghargaan dan terima kasih kepada putra-putri bangsa yang telah bekerja keras untuk mengurai kusut marutnya masalah bangsa ini.
Bersambung Ke part 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar